Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua
Saya sempat berpikir kasian anak-anak karena keterbatasan mereka berbahasa Indonesia, mereka sering diam dan tidak terlalu bisa mengekspresikan diri. Joey cukup cuek dan biasanya dia tidak terlalu terganggu jika temannya mengkoreksi bahasa Indonesianya, namun beda dengan Gossie. Tapi ada baiknya juga karena saya tidak kesulitan mencari materi pembelajaran anak-anak. Jadi saya tidak tahu yang mana lebih baik diajarkan terlebih dahulu, Bahasa Indonesia karena itu bahasa ibu saya atau Bahasa Inggris.
Ada yang bilang cara kami salah. Bahkan waktu Joey masih kecil, keluarga menyalahkan kami karena mengajarkan 2 bahasa kepada Joey sehingga Joey terlambat bicara. Sewaktu Joey 2 tahun, perbendaharaan katanya gak sampe 20 total. Awalnya alasan kami berkomunikasi dalam bahasa Inggris di dalam keluarga yaitu supaya saya dan suami tidak melupakan bahasa Inggris. Kami sempat diberi kesempatan untuk tinggal di luar Indonesia selama lebih dari 10 tahun. Bahasa Inggris menjadi bahasa sehari-hari di sana. Tidak sulit bagi kami utk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Kami berpikir anak-anak pasti bisa belajar bahasa Indonesia dari teman-temannya. Tapi itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Anak-anak menangkap bahasa Indonesia sana sini .. yang ada hancur bahasa Indonesianya.
Jadi awal tahun 2021 saya lebih tepatnya mulai mengurangi bahasa Inggris dan menambah bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Hari Sabtu Minggu biasanya bahasa Indonesia. Senin-Jumat bahasa Inggris. Kalo saya lagi masak atau berkebun, saya ajak anak-anak untuk bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Tantangan saya adalah memastikan anak-anak menjawab saya dengan bahasa yang saya pakai. Kecenderungannya adalah saya pakai bahasa Indonesia mereka pakai bahasa Inggris dalam satu percakapan
Jadi kalo ditanya apa bahasa ibu anak-anak saya? Saya jawab 2 bahasa ibu: English dan Indonesia.
Sekarang bagaimana perkembangan anak-anak? Saya cukup senang, anak-anak bisa membaca dalam bahasa Indonesia meskipun belum bisa cepat. Secara oral pun, mereka lebih bagus struktur kalimatnya, tidak terbalik-balik. Dulu mereka bilang kecil rumah, sekarang bisa dibalik rumah kecil, lalu kalimat aktif dan pasif juga mendingan. Yang saya khawatir adalah pengaruh bahasa Jawa. Jadi saya belajar untuk tidak pakai kata "tak". Orang Jawa Timur suka dengan penggunaan "tak" sebagai pengganti saya, misal tak bukakan pintu. Harusnya Saya bukakan pintu. Kalo logat, saya pasrah. Semua orang di luar Surabaya yang mendengar kami ngomong Inggris akan bilang logat jawanya medok yahh hahaha..
Oh ya, saya sempat mengusahakan untuk menggunakan buku paket dari pemerintah sebagai bahan anak-anak belajar bahasa Indonesia. Setelah menghabiskan waktu seharian untuk memilih yang mana yang dipakai karena buku-bukunya tebal dan mencoba menjalankan selama 2 minggu, saya menyerah. Gossie menolak mengikutinya. Akhirnya saya ganti bukunya dengan "Menjadi Indonesia". Bukunya lumayan sederhana, bacaan menarik dan terstruktur.
Pernah ada satu waktu, saya menugaskan Joey untuk mengerjakan buku aktivitasnya selama saya beristirahat. Joey menggunakan google translate untuk mengerjakannya. Saya tertawa membaca kalimat-kalimatnya karena terkesan tidak wajar. Tapi saya apresiasi ide dan keinginannya untuk mengerjakannya sendiri. Gossie cenderung membuat kalimat-kalimat pendek untuk mempermudah tugasnya. Tapi tidak apa, saya tetap dukung usahanya untuk mengerjakan sendiri.
Selain pemakaian bahasa Indonesia dalam keseharian, Gossie dan Joey telah menyelesaikan buku Menjadi Indonesia 1 sampai bab 8. Saya juga mulai membacakan buku komik Kuark dan melakukan eksperimennya term ini. Saya libatkan kakek nenek
mereka dengan membaca buku karakter anak lewat cerita binatang melalui
zoom. Nah itu cara-cara saya membantu anak-anak menguasai bahasa Indonesia. Cara apa yang telah kamu lakukan untuk mendukung pembelajaran bahasa kedua anak-anak?
Comments
Post a Comment